openSUSE Asia Summit 2017, Sebuah Cerita dari Tokyo

Foto diambil dari kamera Edwin Zakaria

 

Ditahun 2017 ini, Komunitas openSUSE Indonesia berkesempatan mengirimkan kontingen pada openSUSE Asia Summit 2017 di Tokyo, Jepang. Awalnya kontingen ini berjumlah 15 orang, karena satu dan lain hal, kontingen yang berangkat akhirnya hanya 12 orang. Diantara negara-negara lain, seperti Taiwan, Cina dan tuan rumah Jepang, Indonesia merupakan negara dengan pengirim paper terbanyak (satu orang bisa mengirimkan lebih dari satu paper, walaupun hanya satu saja yang akhirnya diterima).

Sebagian besar dari kami, mengunjungi Tokyo merupakan pengalaman baru. Bahkan bagi beberapa dari kami, menjejakkan kaki di negeri orang juga merupakan hal baru. Musim gugur dengan suhu yang cukup dingin (sekitar 10 derajat celcius) disertai hujan yang tak kunjung reda menyambut kedatangan kami. Tak lupa typhoon juga menyapa kami pada hari terakhir konferensi. Konon, tahun ini merupakan musim gugur dengan suhu terendah. Pantas saja kami merasa kedinginan.

Satu hari sebelum acara dimulai, Takeyama-san selaku tuan rumah menjamu seluruh pembicara dalam acara makan malam. Beberapa wajah bagi kami terlihat tidak asing karena sudah pernah bertemu pada acara FOSS skala internasional di Indonesia, terutama kawan-kawan dari Taiwan dan Jepang.
Hari pertama konferensi, udara dingin menyengat disertai hujan masih setia menemani kami dalam perjalanan menuju kampus UEC, Chofu. Acara dibuka oleh Takeyama-san, berisi highlight openSUSE Asia Summit 2017. Berikutnya, Pak RB (Richard Brown, begitu kami menyebutnya, beliau adalah Chairman of openSUSE Board) memberikan keynote mengenai openSUSE dan berita terbaru dari dunia persilatan openSUSE di Nuremberg sana. O iya, beberapa karyawan SUSE dari Nuremberg, Jerman turut hadir juga seperti mas Ludwig, mbak Ana, mas Andreas dll. Kemudian, sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pembicara dari tuan rumah, Omo-san (Kazuki Omo) yang juga praktisi keamanan membawakan materi tentang keamanan di FLOSS. Berikutnya, Ludwig Nussel dari SUSE bercerita tentang dibalik layar menuju openSUSE Leap 15 yang dijadwalkan akan rilis pada April 2018.

Sesi setelah makan siang adalah kelas paralel, pembicara pertama dari Indonesia yang berkesempatan debut di Jepang adalah Dhenandi (Muhammad Dhenandi Putra) dengan materi “Have Fun Claim Control your Docker Images with Portus on openSUSE Leap”. Sesi setelah break minum teh pada sore hari ada sesi dari Kukuh Syafaat, yaitu mengenai Flatpak dan AppImage serta Andi Sugandi (OBS dan AppImage). Diikuti oleh Edwin Zakaria, beliau bercerita tentang komunitas openSUSE di Indonesia serta Alin Nur Alifah mengenai .NET. Acara hari pertama ditutup oleh lightning talk. Malamnya panitia menggelar acara makan malam untuk seluruh panitia dan peserta.

Hari kedua konferensi, udara dingin masih menyengat, tengah malam dijadwalkan typhoon akan menuju Tokyo. Takeyama-san membuka acara dengan bercerita tentang dibalik layar openSUSE Asia Summit, dan juga penyerahan hadiah bagi relawan terbaik. Hari kedua juga merupakan LibreOffice Mini-Conference. Dengan begitu, akan banyak kelas berisi materi tentang LibreOffice, sayangnya beberapa kelas hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Beberapa topik yang menarik dari LibreOffice Mini-Conference ini adalah LibreOffice: The Office Suite with Mixing Bowl Culture oleh Naruhiko Ogasawara dan A War of File Format ODF vs OOXML oleh Franklin Weng. Pembicara dari Indonesia yang unjuk gigi pada hari kedua diantaranya ada Yan Arief mengenai Telegram Bot yang digunakan oleh Translator openSUSE-ID. Kemudian Sendy Aditya Suryana memaparkan kisah sukses dalam mengelola relawan pada openSUSE Asia Sumit 2016 di Yogyakarta yang lalu. Sesi-sei berikutnya ada Estu Fardani yang memberikan workshop mengenai Ansible, lalu Tonny Adhi Sabastian yang bercerita tentang SSO. Kemudian, Saputro Aryulianto membawakan materi tentang OpenStack LbaaS. Syah Dwi Prihatmoko bercerita tentang Promotheus dan Grafana serta Umul Sidikoh yang merupakan satu-satunya pembicara dari Indonesia yang berada pada track LibreOffice Mini-Conference. Acara hari kedua ditutup oleh lightning talk.

Satu hari setelah konferensi atau semalam setelah typhoon, matahari mulai menyinari Tokyo meskipun angin masih terasa kencang. Panitia menggelar acara jalan-jalan, antara lain ke Asakusa, Tokyo SkyTree, dan Akihabara. O iya, acara jalan-jalan ini kami semua menggunakan tranportasi umum dan berjalan kaki, tidak seperti di Indonesia yang menyewa bis. Setelah berfoto bersama di Akihabara, kami semua berpamitan satu sama lain. Berharap bertemu lagi pada lain kesempatan, entah di Taipei, Taiwan atau Chongqing, Cina pada 2018 atau pada kesempatan lainnya.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Takeyama-san dan semua teman-teman panitia (beberapa diantaranya dari LibreOffice Japan, Naruhiko Ogasawara, Shinji Enoki, dll) juga kepada openSUSE untuk Travel Support Request.

Sampai jumpa di acara openSUSE lainnya.

NB: Foto-foto dari openSUSE Asia Summit 2017 ini dapat diakses disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *